Pulang Kerja, Gadis Asal Labuan Pandeglang Diduga Dipukul Bambu oleh OTK

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Seorang gadis asal Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, bernama Mona Aprilia (20), mengaku menjadi korban pemukulan menggunakan bambu oleh orang tak dikenal (OTK) saat perjalanan pulang kerja, Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.

Mona yang bekerja di bagian farmasi Klinik Alinda, Citereup, Kecamatan Panimbang, mengalami kejadian tersebut ketika melintasi jalur yang disebut berada di kawasan Cibungur, Kecamatan Sukaresmi, menuju Tegalpapak, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Menurut pengakuan korban, seorang pria berbadan tegap tiba-tiba mencegatnya di tengah jalan sambil membawa sebatang bambu. Pria tersebut kemudian memukulkan bambu ke arahnya saat Mona melintas menggunakan sepeda motor.

"Saya dicegat di tengah jalan oleh seseorang berbadan tegap. Dia membawa sebatang bambu. Awalnya saya tidak berpikir apa-apa karena fokus ke jalan. Namun, setelah dekat, dia malah memukul saya dengan bambu yang dipegangnya," kata Mona.

Mona mengaku terkejut ketika pria tak dikenal tersebut mengayunkan bambu ke arahnya. Ia bersyukur tidak sampai terjatuh dari sepeda motor yang dikendarainya.

Berdasarkan keterangannya, bambu tersebut tidak mengenai kepala maupun badan secara langsung. Namun, pukulan itu menyerempet tangannya dan mengenai kaca spion sepeda motor.

"Alhamdulillah, bambu yang dipukulkan ke saya tidak mengenai kepala atau badan. Namun, tangan saya terserempet dan kaca spion motor yang saya kendarai terkena pukulan," tuturnya.

Setelah kejadian tersebut, Mona langsung memacu sepeda motornya tanpa berhenti. Ia mengaku ketakutan dan gugup sehingga tidak sempat memperhatikan wajah orang yang diduga melakukan pemukulan tersebut. Mona hanya mengingat bahwa pria itu berbadan tegap dan tidak mengenakan penutup kepala ataupun topi.

Setelah mengalami dugaan pemukulan di jalan, Mona tidak langsung pulang ke rumah. Ia memilih menemui ayahnya, Defri (47), yang sedang bekerja sebagai penjaga parkir.

Dalam kondisi gugup, ketakutan, dan menangis, Mona menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.

Defri mengaku terkejut melihat putrinya datang dalam kondisi ketakutan. Ia kemudian memeriksa keadaan fisik Mona untuk memastikan kondisi anaknya setelah mengalami peristiwa tersebut.

Menurut Defri, jalur yang menghubungkan kawasan Tegalpapak, Kecamatan Pagelaran, dengan Cibungur, Kecamatan Sukaresmi, memiliki penerangan jalan yang dinilainya masih minim. Sejumlah titik juga relatif sepi karena jarak antar pemukiman warga cukup berjauhan.

"Jalur jalan Tegalpapak, Pagelaran, dan Cibungur, Sukaresmi, memang jalur yang penerangan jalan umumnya remang-remang, gelap, dan pemukiman warganya jarang. Di jalur itu harus lebih hati-hati," ujar Defri.

Menyusul kejadian yang dialami putrinya, Defri berharap pemerintah setempat dan masyarakat meningkatkan keamanan lingkungan, terutama di jalur Tegalpapak–Cibungur yang disebutnya minim penerangan.

Ia menilai kondisi jalan yang gelap dan sepi perlu mendapat perhatian agar masyarakat merasa lebih aman ketika melintas pada malam hari.

"Saya berharap pemerintah setempat bersama warga, khususnya Desa Tegalpapak, Kecamatan Pagelaran, dan Desa Cibungur, Kecamatan Sukaresmi, agar lebih ekstra dalam menjaga ketertiban dan keamanan lingkungannya. Lokasi itu rawan dimanfaatkan untuk melakukan tindak kejahatan karena sepi dan gelap," ungkapnya.

Defri juga meminta Dinas Perhubungan meningkatkan penerangan jalan umum (PJU) di sepanjang jalur tersebut.

Selain itu, ia berharap kepolisian sektor Pagelaran dan Sukaresmi lebih rutin melakukan patroli untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Saya juga meminta kepada Dinas Perhubungan agar lebih memaksimalkan penerangan jalan umum di jalan tersebut. Selain itu, kepada unsur Muspika, khususnya pihak kepolisian sektor Pagelaran dan Sukaresmi, agar sering-sering melakukan kontrol atau patroli di jalan itu demi keamanan warga atau masyarakat yang melintas," pungkasnya. (Ila) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama