MenaraToday.Com - Pandeglang :
Pagi belum sepenuhnya hangat saat derap langkah para tenaga kesehatan UPT Puskesmas Labuan mulai terdengar di Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Dengan membawa vaksin, alat kesehatan, dan senyum penuh semangat, mereka menyusuri rumah demi rumah, posyandu demi posyandu, memastikan satu hal penting, tidak ada anak yang tertinggal dari perlindungan imunisasi campak. Program kejar imunisasi ini bukan sekadar rutinitas layanan kesehatan. Ia hadir sebagai respons nyata atas meningkatnya kasus campak sejak akhir 2025. Sekitar 10 kasus tercatat dirawat di RSUD Labuan dan Puskesmas Labuan, sebuah angka yang cukup menjadi alarm bagi para tenaga kesehatan.
“Kami ingin memastikan semua bayi dan balita berusia 9 bulan hingga 59 bulan mendapatkan imunisasi dasar lengkap, khususnya campak,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Labuan, Sri Rezeki, S.ST, Bdn. Kepada menaratoday.com. Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, imunisasi adalah benteng pertama untuk melindungi generasi muda dari penyakit menular yang bisa dicegah. Tak kurang dari 30 petugas dikerahkan. Sebagian bertugas secara mobile, mendatangi rumah warga, sementara lainnya bersiaga di posyandu.
Desa Cigondang menjadi titik awal, disusul delapan desa lainnya, yakni Desa Caringin dihari berikutnya, disusul Desa Teluk, Sukamaju, Labuan, Kalang Anyar, Banyu Biru, Banyu Mekar, dan terakhir di Desa Rancatereup. Selama 10 hari kerja, mereka akan terus bergerak, menyusuri wilayah demi wilayah.
Di balik jarum suntik dan vaksin, tersimpan pula cerita tentang edukasi dan kepercayaan. Banyak orang tua yang masih ragu, takut akan efek samping imunisasi. Di sinilah peran tenaga kesehatan menjadi penting, bukan hanya sebagai pemberi layanan, tetapi juga sebagai pendamping dan pemberi pemahaman.
Ia dan timnya aktif melakukan pendataan serta kunjungan langsung ke rumah warga, terutama di daerah dengan cakupan imunisasi rendah atau yang pernah terdapat kasus campak.
Lebih dari sekadar menyuntikkan vaksin, mereka menanamkan kesadaran bahwa imunisasi adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan anak. Campak, yang masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian anak di Indonesia, dapat dicegah dengan langkah sederhana namun berdampak besar: imunisasi tepat waktu.
Sri Rezeki juga mengingatkan pentingnya peran orang tua.
“Kami mengajak orang tua untuk tidak ragu membawa anak-anaknya ke fasilitas kesehatan. Selain imunisasi, gizi yang baik dan lingkungan yang bersih juga sangat penting untuk tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Di tengah teriknya matahari dan medan desa yang tidak selalu mudah dilalui, semangat para petugas tak surut. Setiap anak yang berhasil diimunisasi adalah satu langkah kecil menuju tujuan besar: menekan angka campak dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
Penanggung Jawab (Pj) Program Imunisasi Puskesmas Labuan, Fuji Mahfuziah, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program imunisasi rutin guna meningkatkan kekebalan tubuh anak terhadap penyakit menular, khususnya campak yang masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian anak di Indonesia.
“Kami secara aktif melakukan pendataan serta kunjungan ke posyandu dan rumah warga, terutama di daerah dengan kasus campak atau cakupan imunisasi yang rendah. Edukasi kepada orang tua juga terus diberikan agar kesadaran dan partisipasi masyarakat meningkat. Dampak imunisasi pun biasanya hanya berlangsung sekitar tiga hari,” ungkap Fuji.
Ia menegaskan bahwa pemberian imunisasi lengkap sesuai jadwal merupakan langkah paling efektif untuk melindungi anak dari campak dan komplikasinya.
“Kami mengajak seluruh orang tua untuk membawa anak-anak mereka ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan imunisasi secara gratis. Kami jelaskan bahwa efek imunisasi itu ringan dan sementara, biasanya hanya demam satu sampai tiga hari,” tuturnya.
Melalui langkah proaktif ini, Puskesmas Labuan berharap dapat menekan angka kejadian campak serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
"Program kejar imunisasi ini menjadi bukti bahwa kesehatan masyarakat bukan hanya tentang angka dan laporan, tetapi tentang hadirnya negara dalam hal ini pemerintah dan tenaga kesehatan di tengah masyarakat, menyapa, mendengar, dan melindungi masa depan satu anak, satu desa, dan satu suntikan pada satu waktu," tutupnya. (ILA)
