MenaraToday.Com - Malang :
Konflik berkepanjangan antara dua kubu yang memperebutkan pengelolaan SMK/STM Turen, Kabupaten Malang, kembali memanas dan viral di media sosial. Hingga memasuki awal tahun 2026, sengketa tersebut belum juga menemui titik terang dan justru berdampak serius terhadap psikologis serta kenyamanan peserta didik.
Puncaknya, pada Rabu (7/1/2026), ratusan siswa-siswi SMK/STM Turen menggelar aksi orasi damai di depan lingkungan sekolah. Aksi ini menjadi luapan kegelisahan para pelajar yang merasa sekolahnya dijadikan arena konflik kepentingan orang dewasa.
Puluhan poster dibentangkan dengan pesan-pesan moral, di antaranya:
“SMK Turen Bukan Tempat Konflik”,
“Jauhkan Sekolah dari Kepentingan”,
“SMK Turen Cinta Kedamaian”, serta
“Biarkan Kami Belajar Aman dan Nyaman.”
Aksi tersebut mencerminkan jeritan hati para siswa yang merasa menjadi korban konflik yayasan yang tak kunjung usai. Mereka menuntut agar tarik-menarik kepentingan dihentikan dan lingkungan sekolah dikembalikan sebagai ruang belajar yang aman, nyaman, dan bermartabat.
Seorang warga sekitar sekolah menyebut konflik ini sejatinya bukan persoalan baru.
“Masalah ini sudah lama, kalau tidak salah mulai sekitar tahun 2008. Tapi ironisnya, di tahun 2026 justru kembali memanas. Yang paling kasihan tentu anak-anak,” ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Malang, Zulham, menegaskan bahwa konflik hukum maupun kepentingan boleh saja terjadi, namun tidak boleh mengorbankan dunia pendidikan.
“Silakan bersengketa, silakan berkonflik, tapi kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan. Sekolah bukan arena konflik. Siapa pun yang berselisih seharusnya menyelesaikan masalah di luar area sekolah,” tegasnya.
Zulham juga menekankan bahwa negara memiliki kewajiban melindungi hak anak untuk memperoleh pendidikan yang aman dan layak, sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang.
Sementara itu, Wakil Humas sekaligus Juru Bicara SMK/STM Turen menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan gerakan murni siswa dan guru sebagai bentuk penolakan terhadap praktik premanisme dan konflik yayasan yang terjadi di lingkungan sekolah.
“Aksi ini murni suara siswa dan guru yang menolak premanisme serta konflik yayasan di lembaga SMK/STM Turen. Tuntutannya jelas, yakni mengeluarkan pihak-pihak yayasan yang bersengketa—kedua belah pihak—dari lingkungan sekolah. Ini dibuktikan dari tulisan-tulisan dan aspirasi yang disuarakan langsung oleh anak-anak,” jelasnya.
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas belajar mengajar masih dibayangi ketegangan. Para siswa berharap negara dan pihak berwenang segera turun tangan agar konflik segera diakhiri dan masa depan pendidikan mereka tidak terus menjadi korban.
Tuntutan ke 2 adalah mengembalikan kondisi PBM seperti semula, dalam hal ini tanpa preman dan tanpa ada yayasan yg berkonflik di dalam Yayasan SMK/STM Turen. (Bonong)
