Terkait Waktu Dan Cara Pembagian, Menu MBG B3 di Pasirkadu Ditolak Sejumlah Penerima

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Malam itu lampu-lampu rumah di Kampung Cukanggirak, Desa Pasirkadu, Kecamatan Sukaresmi, mulai redup. Alih-alih menunggu waktu istirahat, Kabupaten Pandeglang, Banten, sebagian ibu hamil, ibu menyusui, dan orang tua balita justru mendapat kabar bila paket Makanan Bergizi Gratis (MBG B3) telah datang. Namun bukannya senang, mereka memilih menolak.

Alasan mereka sederhana, kemasan yang dinilai tidak layak dan waktu pembagian yang tak wajar.

Program MBG B3 yang dikirim dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karya Sari itu sampai ke tangan kader sekitar pukul 18.30 WIB, lalu didistribusikan kepada penerima manfaat sekitar pukul 19.00 WIB. Sebagian warga keberatan menerima paket menu tersebut karena dikemas dalam plastik kresek, bukan wadah makanan layak.

“Para penerima manfaat pada menolak ketika diberitahu bahwa MBG sudah bisa diambil karena tadi diterimanya sekitar jam 7 malam,” ujar seorang sumber yang enggan disebut namanya, Kamis (8/1/2026).

Menurutnya, kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi.

“Udah sering begini, telat datang. Kalau hari ini alasannya karena jadwal pengiriman dari dapur ke rumah koordinator kader sampainya jam 17.30, terus diantar ke posyandu ba’da Magrib sekitar jam 18.30. Sama kader dibagiin ke penerima jam 7 malam,” ungkapnya.

Menu MBG hari ini berisi nasi putih, daging ayam, lengkeng, dan irisan mentimun. Dari dapur penyedia, menu dikemas menggunakan tray (ompreng). Namun ketika sampai di tingkat koordinator kader, makanan dipindahkan ke plastik kresek sebelum dibagikan.

“Dari sananya pakai ompreng, enggak tahu kenapa jadi pakai kresek dibagi ke penerima manfaatnya,” katanya.

Salah satu penerima manfaat mengaku enggan mengambil jatah MBG hari itu.

“Jijik lihatnya. Nasi, ayam, lengkeng, irisan timun disatuin di satu kresek. Gimana mau nafsu makan, kayak pakan bebek gitu. Bukan cuma itu, waktu pembagian juga bikin orang malas, masa jam 7 malam baru dibagi,” tuturnya.

Ia menegaskan, penolakan bukan karena tidak bersyukur atas program pemerintah, tetapi karena pengemasan dan waktu distribusi tidak memperhatikan kenyamanan penerima manfaat.

“Bukan kita enggak bersyukur ya adanya MBG ini. Tapi gimana mau berterima kasih, lihat saja kemasannya kayak gini pakai kresek, semuanya disatuin. Katanya biar ibu hamil, busui, dan balita bergizi dan enggak stunting bayinya. Tolonglah lebih diperhatikan lagi,” ujarnya menutup.

Program MBG B3 sendiri diharapkan menjadi upaya pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai langkah pencegahan stunting. Namun di lapangan, cara pengemasan, ketepatan waktu distribusi, serta standar higienitas menjadi sorotan warga.

Hingga berita ini ditayangkan, Koordinator Kader yang merupakan anak Kepala Desa setempat ketika dikonfirmasi belum memberikan keterangan apapun terkait penggunaan plastik kresek dalam pengemasan dan keterlambatan waktu pembagian MBG B3. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama