MenaraToday.Com - Sukabumi :
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi, Kombes Pol Carles Siagian memaparkan hasil autopsi jenazah remaja berinisial NS (12) yang tewas akibat dianiaya ibu tirinya dikampung Leuwinangung Desa Bojosari, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat
Kombes Pol Carles Siagian menjelaskan proses autopsi dilakukan setelah pihaknya menerima jenazah dari Polres Sukabumi.
"Kami dari RS Bhayangkara Tingkat II Kota Sukabumi menerima laporan dari Polres Sukabumi pada Kamis malam. Jenazah kami terima pada Jumat dini hari, dan dokter forensik melakukan autopsi. Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan luka bakar pada sejumlah bagian tubuh korban. Luka terlihat pada anggota gerak, terutama kaki kiri, punggung, hingga area wajah, kemudian ada beberapa luka juga di punggung. Luka bakar juga ada di area bibir dan hidung yang diduga karena panas". Jelasnya..
Lebih lanjut Kombes Pol Carles Siagian menyebutkan bahwa luka bakar tersebut tersebar di sekujur tubuh, termasuk lengan, kaki, paha, dan tangan. Namun demikian, pihaknya belum dapat memastikan apakah luka tersebut akibat tindak penganiayaan atau bukan.
"Meski terdapat luka bakar, tim forensik belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian korban.,luka-luka tersebut secara teori tidak serta-merta menyebabkan kematian karena dari luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian," katanya.
Perwira menengah berpangkat tiga melati ini juga menjelaskan bahwa Tim forensik telah melakukan pemeriksaan organ dalam dan mengambil sampel untuk uji laboratorium lanjutan. Organ yang diperiksa dan dikirim untuk pengujian antara lain jantung dan paru-paru. Pada pemeriksaan awal ditemukan adanya sedikit pembengkakan.
"Jantung dan paru-paru kami periksa karena ada sedikit membengkak. Belum tahu apakah itu karena korban punya penyakit sebelumnya atau tidak," tambahnya.
Tim forensik juga memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan tumpul pada tubuh korban.
"Untuk kekerasan tumpul tidak ada," tegasnya.
Sementara itu, luka di area bibir bagian atas dan dekat hidung disebut sebagai luka lama, sehingga belum bisa dipastikan apakah berasal dari benturan benda tumpul atau sebab lain" paparnya.
Terpisah, ayah korban, Anwar Satibi (38) mengaku tak kuasa menahan emosi ketika menceritakan detik-detik ia mendapati anaknya dalam kondisi mengenaskan.
",Sehari-harinya anak saya ini tinggal di pesantren. Saat kejadian, ia sedang libur untuk persiapan berpuasa bersama keluarga saat itu saya memang tidak berada dirumah karena ada kerjaan di Kota Sukabumi, saya pulang setelah mendapatkan kabar dari isteri saya bahwa anak saya sakit. Namun setibanya di rumah, saya terkejut melihat kondisi anak saya dimana kullit anak saya sudah melepuh di sejumlah bagian tubuh dan terdapat beberapa luka lebam" ujarnya
Awalnya Anwar mengira luka tersebut akibat demam biasa. Ia bahkan sempat berniat membeli salep. Siang harinya, NS dibawa ke rumah sakit. Di tengah proses itu, seorang kerabat datang dan menanyai NS.
"Ditanya lah, ngaku dikasih minum air panas (oleh ibu tirinya). Makanya itu ada di dalam video saya sempat brutal," kata Anwar.
Ia menyebut kulit anaknya melepuh di bagian kaki, punggung, hingga tangan. NS kemudian dibawa ke RS Jampangkulon dan mendapat penanganan pada Kamis (19/2) dari pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB.
Tak ingin berspekulasi, Anwar mendorong dilakukan autopsi terhadap anaknya. Ia mengaku tak ingin menuduh tanpa bukti.
Dugaan penganiayaan yang menimpa NS pun menyeruak ketika ia ditanya Isep Dadang Sukmana (62), salah satu pembina ponpes yang dekat dengan anak tersebut. Dengan napas terakhirnya, NS sempat menyebut bahwa luka bakar dari air panas itu disebabkan oleh ibu tirinya.
"Dalam pengakuan (luka) itu sama mamanya. Langsung bapaknya juga marah di situ (rumah sakit). Saya tidak menuduh siapa-siapa tapi pengakuan anak sendiri seperti itu. Mungkin ke bapaknya nggak berani bilang karena anak ini dekat dengan saya jadi dia terbuka," kata Isep, Jumat (20/2/2026)
Sementara itu, Anwar mengungkap, dugaan kekerasan terhadap anaknya bukan kali pertama terjadi. Sekitar satu tahun lalu, ia sempat melaporkan dugaan penganiayaan ke polisi.
"Pas terjadi penganiayaan yang saya laporkan satu tahun lalu di polres. Jadi ini sudah pernah terjadi, cuma dimediasi. Dia (ibu tiri korban) sujud ke saya jangan lapor, mamah mau taubat," ucapnya sambil menirukan perkataan sang istri dari pernikahannya yang keenam kali.
Ia menyebut saat itu anaknya dipukul menggunakan benda. Meski sempat dimediasi, laporan tersebut diakuinya belum dicabut.
"Ini ujian buat saya," katanya sambil menyeka air mata. (***)
