MenaraToday.Com - Pandeglang :
Pagi ini, suasana di sejumlah sekolah di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, terasa berbeda. Setelah sepekan menikmati libur awal Ramadan, para siswa kembali memasuki gerbang sekolah dengan langkah yang masih diselimuti nuansa bulan suci. Tidak seramai hari biasa, namun cukup untuk menandakan semangat belajar tetap menyala.
Di SMAN 3 Pandeglang, tingkat kehadiran siswa pada hari pertama masuk sekolah tercatat sekitar 75 hingga 80 persen. Angka itu memang belum sepenuhnya normal, tetapi bagi pihak sekolah, kondisi tersebut sudah cukup menggembirakan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 3 Pandeglang, Sri Rahmawati, menyebut penurunan jumlah siswa yang hadir tidak terlalu signifikan.
“Alhamdulillah penurunannya tidak begitu signifikan, sekitar 75-80 persen siswa yang masuk,” ujar Sri kepada menaratoday.com. Senin (23/2/2026).
Sekitar 20-25 persen siswa yang belum hadir memiliki beragam alasan. Ada yang masih dalam kondisi kurang sehat, ada pula yang terlambat bangun di hari pertama puasa. Namun, alih-alih memberi sanksi, pihak sekolah memilih pendekatan yang lebih persuasif.
“Kami tidak memberikan sanksi, karena ini hari pertama. Bagi yang terlambat cukup melapor dan tetap diperbolehkan masuk,” kata Sri.
Ramadan memang membawa ritme baru dalam kegiatan belajar mengajar. Jam masuk dimulai pukul 07.30 WIB dan siswa pulang lebih awal, yakni pukul 12.00 WIB. Durasi tiap mata pelajaran pun dipersingkat menjadi 30 menit. Di sela jadwal akademik, muatan keagamaan diperkuat.
Pada jam pelajaran pertama, siswa melaksanakan salat dhuha di kelas masing-masing, dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an yang dibimbing guru mata pelajaran. Sebelum pulang, mereka menutup hari dengan salat dzuhur berjamaah.
Nuansa serupa juga terasa di SMPN 2 Labuan. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Oyok Faturohman, menyebut dari 32 siswa per kelas, sekitar 5 hingga 8 siswa tidak hadir di hari pertama.
“Kalau di persentasekan sekitar 25 persen yang tidak hadir hari ini. Ada yang sakit, ada yang kesiangan, ada juga yang tanpa kabar,” tuturnya.
Meski begitu, ia melihat tren kehadiran tahun ini lebih baik dibanding Ramadan tahun lalu. Salah satu faktor yang diduga menjadi pemicu meningkatnya semangat siswa adalah adanya program makanan bergizi gratis (MBG) untuk berbuka puasa.
“Mungkin karena ada MBG untuk berbuka, jadi tahun ini siswa lebih bersemangat masuk sekolah,” katanya.
Selain penyesuaian jam belajar, SMPN 2 Labuan juga telah menyiapkan agenda pesantren kilat (Sanlat) yang akan dimulai 9 Maret mendatang. Selama tiga hingga tujuh hari, siswa kelas 7 dan 8 akan mengikuti kegiatan pembinaan keagamaan, sementara siswa kelas 9 bersiap menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Di tengah suasana Ramadan yang identik dengan kebersamaan dan refleksi diri, pihak sekolah juga mengingatkan pentingnya peran orang tua. Pengawasan dinilai perlu diperkuat, terutama untuk mencegah anak terlibat dalam aktivitas negatif seperti tren “tawuran sarung” yang belakangan marak.
Ramadan di Labuan bukan sekadar soal jam belajar yang dipersingkat atau absensi yang belum penuh. Lebih dari itu, bulan suci ini menjadi momentum untuk menyeimbangkan pendidikan akademik dan pembentukan karakter. Di antara langkah-langkah yang sedikit lebih pelan dan mata yang masih mengantuk, semangat belajar tetap tumbuh pelan, namun pasti. (ILA)
