Sering Terjadi Kecelakaan, Jembatan Curug Acing Pandeglang Diperbaiki Warga Lewat Gotong Royong

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Pagi itu, suara denting palu dan gesekan kawat memecah sunyi di tepian sungai Curug Acing. Sejumlah warga Kampung Rahong, Desa Padasuka, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang,Banten, tampak sibuk menambal bagian demi bagian jembatan gantung yang telah lama rapuh dimakan usia. Tak ada alat berat, tak ada bantuan resmi, hanya gotong royong dan tekad agar jembatan itu tetap bisa dilalui.

Jembatan gantung Curug Acing bukan sekadar penghubung antarwilayah. Ia adalah nadi kehidupan bagi warga Desa Padasuka, sekaligus akses utama menuju Desa Batu Hideung dan Desa Ciburial. Namun kini, kondisinya memprihatinkan papan lapuk, kawat penyangga berkarat, dan setiap langkah di atasnya menghadirkan rasa was-was.

Bagi Fauzi, kerusakan jembatan ini bukan cerita baru. Ia sudah menyaksikan sendiri bagaimana waktu perlahan menggerogoti kekuatan jembatan yang dulu dibangun oleh PT Cibaliung Sumber Daya sekitar satu dekade lalu.

“Sudah lama rusak. Tapi belum ada perbaikan dari pemerintah. Akhirnya warga swadaya daripada tidak bisa dipakai sama sekali,” tuturnya kepada menaratoday.com. Selasa (31/3/2026).

Di atas jembatan sepanjang sekitar 15 meter dengan lebar hanya 1,5 meter itu, setiap langkah terasa seperti perjudian. Ketika diinjak, jembatan bergoyang, berderit, seolah mengingatkan bahwa keselamatan tak pernah benar-benar terjamin.

Kondisi ini paling dirasakan oleh para siswa dan guru di SDN Padasuka 4. Setiap hari, mereka harus melintasi jembatan tersebut demi menuntut ilmu.

Hendi Saputra masih mengingat betul sebuah kejadian yang nyaris merenggut nyawa seorang guru yang pernah terjatuh ke sungai saat melintasi jembatan dengan sepeda motor, akibat papan yang tak lagi kuat menopang beban.

“Kalau lewat jembatan Curug Acing harus ekstra hati-hati. Jembatannya goyang, tidak stabil. Sangat miris,” katanya.

Bagi para tenaga pendidik, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan harian. Mereka harus menantang risiko demi memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

Memang ada jalur lain. Namun jalan itu memutar jauh, melintasi Kecamatan Cibaliung dan Kecamatan Cibitung, dengan waktu tempuh hingga dua jam. Pilihan yang tak mudah, terutama bagi warga yang menggantungkan aktivitas harian pada waktu dan tenaga yang terbatas.

Di tengah keterbatasan, warga memilih bergerak. Dengan bahan seadanya, mereka memperbaiki jembatan yang tersisa, meski sadar hasilnya tak akan bertahan lama.

“Paling sebulan juga kuatnya,” ujar Hendi.

Namun di balik kerja keras itu, tersimpan harapan besar. Warga dan para guru berharap pemerintah hadir, tak sekadar melihat, tetapi juga bertindak. Mereka mendambakan jembatan yang layak yang aman dilintasi anak-anak sekolah, guru, dan masyarakat yang menggantungkan hidup pada akses tersebut.

Sebab bagi mereka, jembatan Curug Acing bukan hanya soal infrastruktur. Ia adalah penghubung masa depan, antara harapan, pendidikan, dan roda ekonomi yang terus berputar di pelosok desa. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama