SMAN 3 Pandeglang Kembalikan 1.298 Roti MBG Berjamur

MenaraToday.Com - Pandeglang

Suasana pembagian paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 3 Pandeglang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, sempat diwarnai kejadian tak terduga pada Kamis (12/3/2026). Roti yang menjadi bagian dari paket makanan tersebut diketahui dalam kondisi berjamur.

Mengetahui hal itu, pihak sekolah langsung mengambil langkah cepat dengan menarik kembali seluruh roti yang telah dibagikan kepada siswa guna menghindari risiko kesehatan.

Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan, Sri Rahmawati, menegaskan keputusan tersebut diambil sebagai bentuk kehati-hatian pihak sekolah.

“Semua roti dikembalikan, pihak sekolah tidak mau ambil risiko. Item roti dikembalikan semua,” ujar Sri Rahmawati kepada menaratoday.com.

Akibat kejadian tersebut, dari paket makanan yang diterima siswa hanya buah lengkeng, kacang telor, dan susu yang tetap dibawa pulang. Sementara roti yang diduga sudah tidak layak konsumsi langsung dikumpulkan kembali oleh pihak sekolah.

Total roti yang dikembalikan mencapai 1.298 buah. Tak lama setelah laporan disampaikan, pihak dapur selaku penyedia makanan datang langsung ke sekolah untuk mengambil kembali seluruh roti tersebut.

“Jumlahnya 1.298. Insyaallah besok dibawa item gantinya apa, kita juga belum tahu. Yang pasti pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan pihak SPPG,” jelas Sri Rahmawati.

Kabar roti berjamur itu juga dibenarkan oleh salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya. Ia mengatakan anak-anak hanya membawa pulang sebagian isi paket makanan.

“Iya betul, rotinya sudah berjamur. Jadi yang dibawa pulang hanya lengkeng, kacang telor sama susu saja, karena rotinya dikembalikan lagi ke pihak dapur,” katanya.

Sementara itu, Kepala SPPG Caringin, Haryanto, saat dikonfirmasi mengakui adanya roti berjamur dalam pengiriman tersebut.

“Iyah, sudah kita kembalikan ke suppliernya untuk minta dikirim ulang rotinya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sebelum pengiriman sebenarnya roti telah diperiksa. Namun proses pengepakan yang dilakukan pada malam hari diduga membuat pengecekan kurang maksimal.

“Sudah dicek, karena waktu packing-nya malam kemungkinan kurang begitu jelas. Ada dua roti saja yang sudah jamuran, tapi saya minta pengembalian barang ke supplier untuk diganti semua rotinya karena saya juga tidak mau ambil risiko,” tandasnya.

Pihak sekolah berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan kualitas makanan dalam program MBG dapat lebih diperhatikan agar tetap aman dan layak dikonsumsi para siswa. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama