70% Siswa SMPN 2 Labuan Kritik Kualitas MBG, Rasa dan Kebersihan Jadi Sorotan

MenaraToday.Com - Pandeglang : 

Waktu istirahat seharusnya menjadi momen yang dinanti para siswa. Namun, bagi sebagian siswa di SMPN 2 Labuan, Kabupaten Pandeglang, momen itu justru menghadirkan rasa ragu, bukan karena pelajaran, melainkan karena makanan yang mereka terima dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Setidaknya 70% persen siswa disekolah tersebut mengeluhkan paket makanan yang diterima.

Di balik tujuan mulia program tersebut, sejumlah siswa mengaku belum merasakan manfaatnya secara utuh. Harapan akan makanan yang lezat dan bergizi kerap berbenturan dengan kenyataan di lapangan.

Seorang siswa, yang memilih untuk tidak disebutkan namanya, menceritakan pengalamannya. Ia mengaku sering mendapati rasa makanan yang tidak konsisten.

“Kadang sangat asin, kadang terlalu manis. Pernah juga terasa seperti basi,” tuturnya pelan, Kamis (2/4/2026).

Bukan hanya soal rasa, pengalaman makan mereka juga dipengaruhi oleh kondisi makanan itu sendiri. Nasi yang seharusnya menjadi sumber energi utama justru terkadang disajikan dalam kondisi keras. Sementara itu, wadah makanan atau ompreng disebut mengeluarkan bau yang kurang sedap, menambah ketidaknyamanan saat menyantap hidangan.

Keluhan-keluhan tersebut tidak datang dari satu suara saja. Banyak siswa merasakan hal serupa, menciptakan kegelisahan kolektif yang kini mulai terdengar hingga ke pihak sekolah.

Ketua Komite SMPN 2 Labuan, Tb. M. Alwi, mengakui adanya persoalan tersebut. Ia bahkan menyebut sebagian besar siswa merasa tidak puas dengan kualitas makanan yang disediakan.

“Sekitar 70 persen siswa mengeluhkan menu MBG. Bahkan ada buah yang kondisinya tidak layak,” ujarnya.

Tak hanya itu, Alwi juga menyebut bahwa proses pengiriman sering kali terlambat.

"Dapurnya yang dibelakang masjid Al falah Caringin. Banyak kendalanya, sering tidak sesuai, jumlah MBG yang dikirim dengan jumlah penerima, untuk hari ini aja kirimannya kurang 54 ompreng," ungkapnya.

Situasi ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah menghadirkan program pemenuhan gizi bagi pelajar. Alih-alih menjadi solusi, kualitas makanan yang tidak terjaga justru berpotensi mengurangi minat siswa untuk mengonsumsi makanan tersebut.

Kini, harapan mulai diarahkan pada perubahan. Pihak komite sekolah mempertimbangkan untuk mengalihkan penyedia makanan ke dapur MBG lain yang dinilai lebih mampu menjaga kualitas.

“Kami berharap jika dialihkan ke dapur lain, menu dan kualitasnya bisa lebih baik,” kata Alwi.

Bagi para siswa, harapannya sederhana, makanan yang layak, bersih, dan enak untuk dikonsumsi. Sebab, di balik setiap kotak makan yang dibagikan, tersimpan harapan akan energi, kesehatan, dan semangat belajar yang lebih baik. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama