MenaraToday.Com - Pandeglang :
Angin sore berhembus pelan menerpa selembar baliho bekas yang dijadikan dinding darurat. Di baliknya, sepasang lansia mencoba bertahan dari kenyataan pahit yang mengubah hidup mereka dalam sekejap.
Adalah Kanang (61) dan istrinya, Arni, warga Kampung Dungushaur, Desa Surianeun, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, yang kini harus tinggal di emperan rumah anaknya. Tempat itu bukanlah rumah, melainkan ruang sempit seadanya yang disulap dari bahan bekas baliho sebagai alas tidur sekaligus penahan angin malam.
Semua bermula pada bulan suci Ramadhan 2026. Api yang diduga berasal dari korsleting listrik melahap habis rumah mereka. Tak ada yang tersisa, bukan hanya bangunan, tetapi juga kenangan, dan sumber penghidupan.
“Kalau malam dingin, ya kami tahan saja,” ucap Kanang lirih. Kamis (2/4/2026).
Sebagai seorang marbot masjid, Kanang tetap menjalankan tugasnya. Di tengah keterbatasan, ia tetap menjaga tempat ibadah, seolah menjadi cara untuk tetap kuat menghadapi cobaan.
Hari-hari kini berjalan dengan sederhana, bahkan cenderung sulit. Untuk makan saja, ia dan istrinya harus bergantung pada anaknya. Sementara itu, keinginan untuk kembali memiliki rumah sendiri masih terasa jauh.
Bantuan memang sempat datang. Dari pemerintah Kecamatan Patia, melalui Kampung Siaga Bencana (KSB), hingga Dinas Sosial dan BPBD Kabupaten Pandeglang.
Sembako, terpal, kasur lipat, dan perlengkapan dapur sempat meringankan beban mereka.
Namun waktu terus berjalan, dan kebutuhan akan tempat tinggal yang layak menjadi semakin mendesak.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan yang sudah ada. Tapi kalau boleh berharap, kami ingin punya rumah lagi,” katanya.
Di tengah penantian tersebut, harapan sederhana terus dijaga. Terlebih, bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Pandeglang, Kanang menyelipkan doa agar pemimpin daerah dapat melihat langsung kondisi yang ia alami.
“Mudah-mudahan Bupati atau Wakil Bupati bisa datang ke sini, supaya tahu keadaan kami seperti apa,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Desa Surianeun, M. Rizali Asukron, S.Kom, mengatakan bahwa upaya terus dilakukan. Proposal bantuan telah diajukan, koordinasi dengan berbagai pihak juga masih berjalan.
"Bahkan, rencana penggunaan Dana Desa tengah disiapkan untuk membantu pembangunan rumah korban. Meski demikian, proses itu membutuhkan waktu," tandasnya.
Di balik baliho bekas yang rapuh, tersimpan harapan yang belum padam. Harapan akan tempat berteduh yang layak, dan kehidupan yang perlahan bisa kembali seperti semula. (ILA)
