MenaraToday.Com - Pandeglang :
Di tengah semarak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-152 Kabupaten Pandeglang, Rabu (1/4/2026), suasana seremoni tak hanya diisi dengan kemeriahan dan seremonial belaka. Ada pesan tersirat yang mencuat dari panggung utama pesan yang menyentil persoalan nyata yang tengah dihadapi masyarakat dan pemerintah daerah.
Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, hadir dalam perayaan tersebut dengan membawa lebih dari sekadar ucapan selamat. Dalam sambutannya, ia menyinggung fenomena class action yang dilakukan warga terkait kondisi jalan rusak di Pandeglang, sebuah potret keresahan yang kini tak lagi bisa dipendam.
Bagi Dimyati, langkah warga menggugat pemerintah bukanlah sesuatu yang harus ditolak. Ia justru melihatnya sebagai bentuk pembelajaran bagi pemerintah daerah. Namun, di balik itu, ia mengingatkan adanya realitas yang kerap luput dari perhatian publik, yakni keterbatasan anggaran.
“Bagus, memang dibolehkan, tidak apa-apa biar bupati dan wakilnya juga pemda Pandeglang belajar. Namun harus juga dipahami kemampuan keuangan daerah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut seakan menjadi jembatan antara dua kepentingan, aspirasi masyarakat yang menginginkan perbaikan infrastruktur, dan kemampuan fiskal daerah yang tidak selalu sejalan dengan harapan.
Tak berhenti di situ, Dimyati juga melontarkan sindiran yang mengarah ke dinamika politik di wilayah tetangga, Kabupaten Lebak. Konflik antara Hasbi Jayabaya dan Amir Hamzah yang belakangan mencuat, turut menjadi bahan refleksi.
Dengan gaya santai namun mengena, ia menyelipkan harapan agar kepemimpinan di Pandeglang tetap solid dan harmonis.
“Semoga bupati dan wakil bupati di Pandeglang rukun dan harmonis, tidak seperti di Lebak,” ucapnya, disambut reaksi beragam dari hadirin.
Di balik candaan itu, tersimpan pesan serius tentang pentingnya sinergi dalam pemerintahan. Sebab, di tengah tuntutan publik yang semakin kritis, baik terkait infrastruktur maupun tata kelola pemerintahan, keretakan di internal kepemimpinan hanya akan memperlambat solusi.
Menurutnya, perayaan hari jadi yang seharusnya menjadi momentum refleksi, pada akhirnya juga menjadi ruang untuk menyoroti pekerjaan rumah yang belum selesai. Dari jalan rusak yang menggugah aksi warga, hingga konflik elite yang menjadi konsumsi publik, semua berpadu dalam satu panggung yang sama.
"Pandeglang, di usianya yang ke-152, bukan hanya merayakan perjalanan panjangnya, juga dihadapkan pada tantangan untuk berbenah, menyatukan suara rakyat dan langkah pemerintah, agar perayaan di masa depan tak lagi dibayangi persoalan yang sama," tutupnya. (ILA)
