Pelangiran – Dalam upaya memperkuat deteksi dini terhadap dua penyakit menular strategis yakni Tuberkulosis (TB) dan HIV/AIDS, Kepolisian Sektor Pelangiran mengikuti Rapat Koordinasi Lintas Sektoral pada Jumat (24/4/2026) di Aula Kecamatan Pelangiran. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga 10.30 WIB ini dipusatkan pada peran aktif aparat keamanan dalam mendukung percepatan penanganan kesehatan masyarakat. Kapolsek Pelangiran, Iptu Iwan Saputra, S.H., M.H., hadir langsung dan menjadi salah satu tokoh kunci dalam rapat tersebut, menunjukkan keseriusan Polri dalam pendekatan preventif berbasis kolaborasi lintas sektor.
Rapat koordinasi dihadiri oleh unsur pimpinan kecamatan, di antaranya Sekretaris Camat Adi Ahmad Putra, S.E., Danramil 10 Pelangiran yang diwakili Serda Candra Bastian, Ketua TP PKK Nurlindawati, S.Tr.Keb., serta jajaran dinas kesehatan Kepala Bidang P2P Hj. Salma Riantiti, S.K.M., M.K.M., Kepala UPT Puskesmas Ririn Handayani, dan Dokter Puskesmas dr. Wahyu Nugroho. Hadir pula perwakilan UPTD Pendidikan, lurah se-Kecamatan Pelangiran, serta manajemen perusahaan di wilayah setempat. Kehadiran Kapolsek Iptu Iwan Saputra menjadi pusat perhatian karena ia membawa perspektif keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) sebagai variabel penting dalam keberhasilan program pengendalian penyakit menular.
Iptu Iwan Saputra menekankan bahwa deteksi dini TB dan HIV/AIDS tidak semata-mata urusan medis, melainkan juga menyangkut aspek sosial dan keamanan lingkungan. “Banyak penderita yang enggan memeriksakan diri karena stigma dan ketakutan. Dari sisi kepolisian, kami melihat itu sebagai potensi gangguan ketertiban jika tidak dikelola dengan pendekatan humanis,” ujarnya. Kapolsek mengapresiasi inisiasi dari UPT Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir yang menggandeng aparat penegak hukum dalam rapat ini. Ia menegaskan bahwa Polsek Pelangiran siap menjadi ujung tombak penggerak partisipasi masyarakat melalui Bhabinkamtibmas di setiap desa.
Kapolsek memberikan penjelasan teknis tentang bagaimana pola kemitraan antara kepolisian dan tenaga kesehatan dapat mempercepat penemuan kasus. Menurut Iptu Iwan, kehadiran polisi di tengah masyarakat membuka akses informasi yang lebih luas, terutama dari kelompok rentan seperti pekerja di perusahaan perkebunan, nelayan, dan komunitas pinggiran. “Kami memiliki data kependudukan dan aktivitas warga secara riil. Dengan berbagi data secara terbatas dan melindungi kerahasiaan pasien, kami bisa membantu Puskesmas menjangkau orang-orang yang berisiko tinggi namun sulit diakses,” jelasnya.
Kiat pertama yang disampaikan Kapolsek adalah optimalisasi peran Bhabinkamtibmas sebagai kader kesehatan darurat. Ia mengusulkan agar setiap Bhabinkamtibmas mendapat pelatihan singkat mengenai gejala awal TB dan HIV/AIDS, sehingga saat melakukan sambang desa, mereka dapat mengedukasi warga dan merujuk ke fasilitas kesehatan. Kiat kedua adalah pembentukan posko terpadu di balai desa yang melibatkan aparat desa, Babinsa, dan polisi secara rutin. “Jangan menunggu laporan dari rumah sakit. Kami harus jemput bola. Laporkan setiap warga dengan batuk berdahak lebih dari dua minggu atau penurunan berat badan drastis,” tegas Iptu Iwan yang disambut diskusi hangat para peserta.
Pada sesi diskusi pencegahan yang berlangsung interaktif, Kapolsek juga menyampaikan kiat ketiga: memanfaatkan sistem keamanan lingkungan (Siskamling) untuk kampanye kesehatan. Menurutnya, pengeras suara di pos ronda dapat digunakan untuk menyosialisasikan jadwal pemeriksaan TB dan tes HIV sukarela tanpa menimbulkan kepanikan publik. Kiat keempat adalah pendekatan persuasif kepada manajemen perusahaan di Pelangiran. “Perusahaan wajib menyediakan layanan kesehatan kerja, dan saya akan mengingatkan melalui fungsi pembinaan masyarakat. Jika ada pekerja yang terdeteksi, jangan di-PHK, tapi dirujuk untuk berobat. Polisi akan memediasi jika terjadi konflik,” tambahnya, yang diamini oleh perwakilan perusahaan yang hadir.
Sementara itu, Kabid P2P Dinkes Inhil, Hj. Salma Riantiti, memaparkan data bahwa kecamatan Pelangiran masuk daerah dengan potensi penularan TB cukup tinggi karena mobilitas penduduk dan keberadaan perusahaan. Ia mengapresiasi kiat-kiat dari Kapolsek yang dinilai inovatif dan aplikatif. Diskusi kemudian menyepakati beberapa tindak lanjut, antara lain pembentukan tim verifikasi lapangan gabungan (Puskesmas, Polsek, Koramil) dan pelaporan mingguan melalui grup komunikasi resmi. Kapolsek Iptu Iwan Saputra berkomitmen untuk menerjunkan personel pengamanan saat kegiatan skrining massal yang direncanakan pada Mei mendatang.
Rapat koordinasi ditutup pukul 10.30 WIB dalam suasana kondusif dan penuh semangat kolaborasi. Kapolsek Pelangiran menyampaikan apresiasi tertinggi kepada semua pihak yang hadir, terutama Camat dan Danramil, atas sinergi yang solid. “Lawan TB dan HIV/AIDS bukan dengan ketakutan, tapi dengan deteksi dini dan kerja sama tanpa sekat. Polri hadir untuk melindungi, termasuk melindungi masyarakat dari wabah yang dapat mengancam ketahanan sosial,” pungkas Iptu Iwan Saputra.
Kegiatan berjalan lancar, terkendali, dan menghasilkan kesepakatan nyata yang segera ditindaklanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan di Kecamatan Pelangiran.
