MenaraToday.Com - Pandeglang :
Angin pantai berembus lembut di Pantai Gorengan, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kamis (2/4/2026). Di antara debur ombak dan hamparan pasir, ratusan guru tampak berkumpul dalam suasana hangat penuh keakraban. Sekitar 800 guru dari berbagai sekolah di Kecamatan Labuan hadir dalam kegiatan halal bihalal yang digelar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Labuan.
Suasana kekeluargaan terasa begitu kental. Para guru saling bersalaman, berbincang, dan tertawa ringan, seolah melepas penat setelah menjalani rutinitas mengajar. Momen ini menjadi lebih bermakna karena tidak sedikit di antara mereka merupakan wajah-wajah baru, guru yang baru diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) maupun PPPK paruh waktu.
Bagi Aat Supriatna, S.Pd, Kepala SDN 3 Labuan, kegiatan seperti ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ruang penting untuk membangun kedekatan.
“Di Labuan ini banyak guru baru. Karena jumlahnya cukup banyak, tidak semua saling mengenal. Kegiatan seperti ini jadi kesempatan untuk saling menyapa dan mempererat hubungan,” tuturnya.
Di balik kehangatan acara, ada upaya menjaga keseimbangan antara silaturahmi dan tanggung jawab pendidikan. Meski digelar pada hari efektif sekolah, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
Sejak pagi, para siswa tetap mengikuti pelajaran seperti biasa. Di beberapa sekolah, guru datang bergantian ke lokasi acara setelah menunaikan kewajiban mengajar di jam pertama. Siswa pun dipulangkan lebih awal, sekitar pukul 09.30 hingga 10.00 WIB, setelah menerima kegiatan pembelajaran dan pembagian Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua PGRI Cabang Labuan, Jupri, S.Pd, menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil koordinasi bersama dengan pihak terkait.
“Kalau di luar jam kerja, sulit mengumpulkan guru. Maka diambil jalan tengah, kegiatan tetap berjalan, tapi siswa juga tetap mendapatkan hak belajarnya,” ujarnya.
Menurut Jupri, halal bihalal bukan sekadar agenda seremonial. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi perekat solidaritas antar guru di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang.
Tahun ini, nuansa acara terasa sedikit berbeda. Para peserta mendapatkan siraman rohani dari KH Jamaludin, pengasuh Pondok Pesantren Al Huda Solok Jengkol, Saketi, Pandeglang. Tausiyah yang disampaikan menambah kedalaman makna pertemuan tersebut, mengajak para guru untuk terus menjaga keikhlasan dan kebersamaan dalam menjalankan profesinya.
Senada, Korwil UPT Disdikpora Kecamatan Labuan, Johan Agus Cahyadi, menegaskan bahwa kegiatan tidak mengganggu proses belajar mengajar secara penuh.
“Ini hasil kesepakatan bersama. Siswa tetap masuk dan belajar pada jam pertama, lalu dipulangkan sekitar pukul 09.30 sampai 10.00 WIB setelah kegiatan MBG. Para guru juga datang bergiliran karena sebagian tetap mengajar terlebih dahulu,” tutupnya.
Menjelang siang, acara ditutup dengan tradisi sederhana namun sarat makna: makan bersama atau “babacakan”. Setiap sekolah membawa bekal makanan masing-masing, lalu dinikmati bersama dalam suasana santai di tepi pantai.
Di situlah, batas formalitas perlahan mencair. Guru-guru yang sebelumnya hanya saling mengenal nama, kini berbagi cerita dan tawa. Di tengah hamparan laut dan langit yang luas, terjalin kembali semangat kebersamaan bekal penting untuk kembali ke ruang-ruang kelas, mendidik generasi masa depan. (ILA)
