MenaraToday.Com - Serang :
Di tengah geliat industri yang terus tumbuh di Provinsi Banten, harapan baru untuk ekonomi masyarakat justru datang dari desa dan kelurahan. Bukan dari gedung-gedung pabrik besar, melainkan dari koperasi.
Pemerintah Provinsi Banten mencatat, sebanyak 1.551 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih kini telah terbentuk. Jumlah itu menambah panjang daftar koperasi di Banten yang secara keseluruhan mencapai lebih dari 6.500 unit.
Namun bagi Gubernur Banten, Andra Soni, angka besar itu bukan sekadar statistik.
Di balik ribuan koperasi tersebut, ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan: memastikan koperasi benar-benar hidup dan bergerak bersama masyarakat.
“Kalau jumlah itu aktif semua, itu bisa menyaingi jumlah industri yang ada di Banten,” ujar Andra Soni. Rabu (20/5/2026).
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Selama ini, koperasi sering kali hanya hadir sebagai pelengkap administrasi. Berdiri di atas kertas, memiliki papan nama, tetapi minim aktivitas. Bahkan tidak sedikit koperasi yang hanya ramai saat rapat tahunan digelar.
Padahal, koperasi sejak awal lahir sebagai ruang gotong royong ekonomi rakyat. Tempat warga saling menguatkan modal, membuka usaha bersama, hingga membangun kemandirian ekonomi di lingkungannya sendiri.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Banten meminta Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) ikut turun tangan melakukan pendataan sekaligus pembinaan koperasi aktif di daerah. Tujuannya sederhana, tetapi penting: koperasi jangan hanya ada secara administratif, melainkan benar-benar berjalan dan memberi manfaat nyata bagi warga.
Ketua Dekopin Wilayah Banten, Hasbi Sidik, mengatakan pihaknya siap mendukung penguatan koperasi, termasuk Koperasi Merah Putih, melalui pembinaan manajemen dan fasilitasi usaha koperasi di daerah.
Menurutnya, koperasi harus kembali menjadi ruang tumbuh ekonomi masyarakat.
“Koperasi bukan sekadar papan nama dan rapat tahunan yang kadang pesertanya lebih sedikit dari panitia. Koperasi harus jadi ruang tumbuh ekonomi warga, membuka peluang usaha, dan memperkuat kemandirian desa,” ujar Hasbi.
Di banyak desa, koperasi sejatinya masih menyimpan harapan besar. Ketika akses modal terbatas, lapangan pekerjaan sulit, dan usaha kecil kesulitan berkembang, koperasi bisa menjadi jalan tengah.
Bagi Banten, keberadaan ribuan koperasi itu bisa menjadi kekuatan ekonomi baru jika dikelola sehat, aktif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Sebab koperasi bukan hanya soal organisasi ekonomi, melainkan tentang bagaimana warga desa bisa tumbuh bersama dan berdiri lebih mandiri di tanahnya sendiri. (ILA)
