20 Kampung Bedug Di Pandeglang Meriahkan Gebrag Ngadu Bedug 2026

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Dentuman bedug bertalu-talu memecah udara sore di alun-alun Pandeglang, Banten. Irama yang lahir dari pukulan tangan-tangan terampil itu bukan sekadar bunyi. Di balik setiap hentakan, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, kebersamaan, dan identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Selama tiga hari, dimulai 29 Mei hingga 31 Mei 2026. Gebrag Ngadu Bedug 2026 menghadirkan 20 Kampung Bedug dari berbagai wilayah di Kabupaten Pandeglang. Mereka datang bukan hanya untuk beradu irama dan kekompakan, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa warisan budaya leluhur masih hidup dan terus menemukan tempatnya di tengah kehidupan modern.

Di antara riuhnya penonton dan semangat para peserta, bedug menjadi lebih dari sekadar alat musik tradisional. Ia menjelma sebagai simbol kampung, pengikat hubungan sosial, sekaligus penanda jati diri masyarakat Pandeglang.

Ketua Asosiasi Seniman Bedug Kabupaten Pandeglang, Endang Suhendar, menggambarkan bedug sebagai warisan yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat.

“Bedug bukan sekadar alat bunyi. Ia adalah bahasa kampung yang diwariskan lintas generasi,” ujarnya.

Pernyataan itu terasa nyata ketika melihat keterlibatan warga dalam setiap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan. Tradisi bedug bukan milik segelintir orang, melainkan milik seluruh kampung. Anak-anak belajar mengikuti irama dari orang tua mereka, remaja berlatih menjaga kekompakan, sementara para sesepuh memastikan nilai-nilai tradisi tetap terjaga.

Di Kampung Cilaja, semangat itu tumbuh kuat. Mustori, salah seorang peserta, menceritakan bagaimana masyarakat memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi bedug.

“Dukungan masyarakat luar biasa. Dari bapak-bapak, ibu-ibu sampai remaja dan anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan bedug di kampung kami,” katanya.

Antusiasme masyarakat itulah yang membuat tradisi ini tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Ketika berbagai budaya modern datang silih berganti, bedug masih mampu menyatukan warga dalam ruang kebersamaan yang hangat dan penuh makna.

Namun, menjaga tradisi bukan perkara mudah. Arus modernisasi menghadirkan tantangan baru yang membuat warisan budaya harus terus diperjuangkan agar tidak kehilangan ruang hidupnya.

Saat membuka Gebrag Ngadu Bedug 2026, Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, mengingatkan pentingnya mempertahankan tradisi sebagai bagian dari identitas masyarakat.

“Kalau tidak kita pertahankan, identitas kita bisa hilang. Bedug adalah salah satu identitas budaya yang harus terus kita jaga,” ujarnya.

Menurut Dimyati, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenang masa lalu. Tradisi harus diwariskan kepada generasi muda agar tetap relevan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat masa kini.

Karena itu, ia menegaskan bahwa Gebrag Ngadu Bedug harus terus dilaksanakan dan dikembangkan setiap tahun, terlebih setelah masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN).

“Karena sudah masuk KEN, event ini tidak boleh berhenti. Harus terus dilaksanakan dan dikembangkan setiap tahun,” tegasnya.

Di luar arena perlombaan, manfaat kegiatan ini juga dirasakan masyarakat. Kehadiran ribuan pengunjung menghidupkan lapak UMKM, menggerakkan ekonomi kreatif, meningkatkan aktivitas perdagangan, dan membuka peluang promosi pariwisata lokal. 

Tradisi yang berakar pada budaya ternyata mampu menjadi penggerak ekonomi sekaligus ruang pertemuan sosial masyarakat.

Saat malam perlahan turun dan suara bedug masih menggema dari kejauhan, satu pesan terasa begitu kuat, tradisi ini bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah denyut kehidupan yang terus berdetak di tengah masyarakat Pandeglang. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama