Hujan Deras Picu Banjir di Carita, Aktivitas Warga Terganggu

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Suara gemuruh hujan terdengar sejak Minggu pagi (24/5/2026). Langit di Kecamatan Carita tampak gelap sejak pukul 10.00 WIB. Bagi warga Kampung Karawang Legon RT 20/05, Desa Sukarame, hujan deras bukan lagi sekadar pertanda musim basah. Ia datang bersama keresahan yang berulang, banjir kembali menggenangi kampung mereka.

Tak butuh waktu lama, air mulai meluap dari Sungai Ci Garogak. Arus cokelat keruh bergerak cepat memasuki jalan kampung, merendam halaman rumah, lalu perlahan naik ke dalam rumah warga. Anak-anak berlarian menyelamatkan barang-barang kecil, sementara para orang tua sibuk mengangkat perabot ke tempat yang lebih tinggi.

Di titik saluran air yang melintasi kawasan Villa Tropical, luapan terlihat paling parah. Debit air yang besar tak mampu tertampung saluran drainase yang sempit dan dipenuhi aliran deras dari hulu.

“Air naiknya cepat sekali. Baru beberapa jam hujan, jalan sudah tidak bisa dilewati,” tutur Rahmat (42), warga setempat, sambil memperhatikan genangan yang masih mengelilingi rumahnya.

Bagi Rahmat, banjir bukan lagi kejadian mengejutkan. Hampir setiap hujan deras turun di kawasan Carita, warga Karawang Legon selalu dihantui ancaman yang sama. Mereka bahkan hafal tanda-tandanya, hujan panjang, suara arus sungai yang semakin keras, lalu air mulai masuk dari saluran kecil di dekat permukiman.

Keresahan serupa dirasakan Siti Aisyah (37). Ia mengaku selalu cemas setiap awan gelap mulai menggantung di langit Carita.

“Kalau hujan deras, kami langsung bersiap. Barang-barang penting sudah biasa dipindahkan duluan karena takut air masuk rumah,” katanya lirih.

Warga menduga banjir kali ini bukan hanya dipicu curah hujan tinggi, tetapi juga akibat penyempitan saluran air. Dugaan itu mengarah pada keberadaan bangunan milik dua warga bernama Sutarman dan Adam yang disebut mempersempit jalur pembuangan air di sekitar lokasi.

Hasil pengecekan awal di lapangan menunjukkan adanya titik saluran yang tidak lagi mampu menampung aliran air secara maksimal. Saat hujan deras datang, air pun dengan mudah meluap dan mengalir ke permukiman warga.

Meski banjir perlahan surut, bekasnya masih terlihat jelas. Lumpur menempel di lantai rumah, sampah tersangkut di pagar-pagar bambu, dan aktivitas warga lumpuh sepanjang hari. Namun yang paling terasa adalah kelelahan batin masyarakat yang terus menghadapi musibah serupa dari tahun ke tahun.

Warga berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah untuk melakukan normalisasi sungai dan memperbaiki sistem drainase di wilayah tersebut. Mereka ingin terbebas dari ketakutan yang selalu datang bersama hujan.

Sebab bagi warga Karawang Legon, hujan deras tak lagi hanya tentang cuaca. Ia telah berubah menjadi ancaman yang terus menghantui kehidupan sehari-hari. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama