MenaraToday.Com - Pandeglang :
Di sudut Kabupaten Pandeglang, Banten, sebuah ruang baru hadir untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Namanya Pusat Informasi Geologi (PIG), yang diresmikan oleh Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani, pada Senin (4/5/2026). Sebuah tempat yang tak sekadar menyajikan data, tetapi juga menghidupkan cerita tentang bumi, alam, dan potensi yang tersimpan di dalamnya.
Bagi sebagian orang, geologi mungkin terdengar rumit dan jauh dari keseharian. Namun di PIG, konsep-konsep itu dikemas lebih dekat dan mudah dipahami. Di sinilah pengunjung diajak mengenal kekayaan alam Pandeglang, mulai dari bentang alam, ragam flora dan fauna, hingga dinamika bumi yang membentuk wilayah tersebut, terutama di kawasan Ujung Kulon.
General Manager PIG, Aep Saefudin, melihat masih adanya jarak antara masyarakat dan pemahaman tentang geologi. Karena itu, kehadiran PIG diharapkan menjadi jembatan.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya tahu, tetapi juga memahami pentingnya geologi dalam kehidupan mereka,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pusat informasi, PIG dirancang sebagai miniatur Kabupaten Pandeglang. Setiap sudutnya menyimpan potret kekayaan daerah, seolah mengajak pengunjung berkeliling Pandeglang dalam satu ruang. Dari sini, lahir harapan bahwa masyarakat semakin mengenal daerahnya sendiri, bukan hanya dari permukaan, tetapi hingga ke lapisan terdalam bumi.
Kisah Pandeglang tak lengkap tanpa menyebut Taman Nasional Ujung Kulon. Kawasan ini bukan hanya bentang alam yang indah, tetapi juga rumah terakhir bagi Badak Jawa, satwa langka yang kini menjadi simbol penting konservasi dunia. Fakta ini menjadi pengingat bahwa kekayaan alam Pandeglang bukan hanya milik daerah, melainkan juga warisan global yang harus dijaga.
Bupati Pandeglang, Raden Dewi Setiani, menilai PIG sebagai langkah strategis untuk membangun kesadaran masyarakat. Ia menekankan bahwa pemahaman geologi bukan hanya soal ilmu, tetapi juga soal keselamatan. Di wilayah yang rawan gempa, longsor, dan tsunami seperti Pandeglang, pengetahuan bisa menjadi pelindung pertama.
"Melalui PIG, edukasi tentang mitigasi bencana disampaikan dengan cara yang lebih membumi. Pelajar, wisatawan, hingga masyarakat umum dapat belajar mengenali tanda-tanda alam, memahami risiko, dan mengetahui langkah-langkah antisipasi," ujarnya.
Pada akhirnya, PIG bukan hanya tentang batuan, peta, atau data ilmiah. Ia adalah ruang belajar, ruang refleksi, sekaligus ruang harapan. Harapan bahwa masyarakat Pandeglang semakin sadar akan potensi dan risiko yang mereka miliki, serta semakin siap menjaga dan hidup berdampingan dengan alam. (ILA)
