MenaraToday.Com - Pandeglang :
Suara takbir menggema di sudut kampung di Kecamatan Labuan saat belasan kerbau mulai disiapkan untuk disembelih pada Hari Raya Idul Adha. Rabu (27/5/2026). Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, warga tetap menjaga tradisi berbagi melalui kurban dengan cara sederhana namun penuh kebersamaan.
Tahun ini sebanyak 12 hewan kurban, terdiri dari 11 ekor kerbau dan 1 ekor kambing berhasil dikurbankan oleh warga Kampung Sawah Barat, Desa Labuan, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, melalui sistem iuran harian atau nabung yang dikelola oleh panitia hewan kurban setempat.
Nominalnya tidak besar, hanya Rp9.000 per hari untuk setiap peserta. Namun dari kebiasaan menyisihkan uang sedikit demi sedikit selama satu tahun, terkumpul dana sebesar Rp2.780.000 per orang hingga akhirnya hewan kurban bisa dibeli.
Bagi sebagian warga, sistem tersebut menjadi jalan agar tetap bisa ikut berkurban tanpa harus terbebani biaya besar sekaligus.
Sekretaris Panitia Kurban, Uus Husnudin mengatakan, semangat masyarakat untuk ikut kurban tahun ini tetap tinggi meski kondisi ekonomi sedang sulit. Total ada 78 peserta yang terlibat dalam program kurban bersama tersebut.
“Alhamdulillah masyarakat masih antusias. Sistem iuran harian ini sangat membantu warga yang ingin berkurban tanpa harus membayar sekaligus dalam jumlah besar,” kata Uus Hasanudin selaku Sekretaris Panitia Kurban di Labuan kepada menaratoday.com.
Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari warga sekitar. Sekitar 40 persen merupakan warga setempat, sedangkan 60 persen lainnya berasal dari luar kampung yang turut mempercayakan kurbannya kepada panitia di Labuan.
Dari 12 hewan kurban Yang disembelih, lanjut Uus, terkumpul sebanyak 450 kantong daging yang akan disebar kepada para peserta juga masyarakat umum lainnya sebagai penerima.
"Jumlah tersebut dibagikan kepada 78 peserta dan sisanya untuk masyarakat umum juga para panitia," jelasnya.
Di balik ramainya pelaksanaan kurban, panitia juga menghadapi sejumlah tantangan. Harga hewan kurban tahun ini mengalami kenaikan, begitu juga harga plastik yang digunakan untuk membagikan daging kepada masyarakat.
“Kendala tahun ini harga hewan kurban dan plastik mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Tapi kami tetap berusaha agar kegiatan kurban berjalan lancar,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat panitia maupun warga. Gotong royong tetap menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan kurban di kampung tersebut.
Sejak pagi, warga terlihat saling membantu. Ada yang menyiapkan tempat penyembelihan, membungkus daging, hingga membagikannya kepada masyarakat yang berhak menerima. Suasana kebersamaan terasa hangat di tengah hiruk pikuk proses penyembelihan.
Bagi warga Labuan, kurban bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, kurban menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan, terutama di saat kondisi ekonomi sedang tidak mudah.
“Harapan kami kegiatan penyembelihan hewan kurban tetap ada setiap tahun dan jumlah peserta terus bertambah sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” pungkas Uus Hasanudin.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat panitia maupun warga. Gotong royong tetap menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan kurban di kampung tersebut.
Sejak pagi, warga terlihat saling membantu. Ada yang menyiapkan tempat penyembelihan, membungkus daging, hingga membagikannya kepada masyarakat yang berhak menerima. Suasana kebersamaan terasa hangat di tengah hiruk pikuk proses penyembelihan.
Salah seorang warga penerima daging kurban, Siti Aisyah, mengaku bersyukur masih bisa merasakan manfaat kurban di tengah kebutuhan hidup yang semakin meningkat.
“Alhamdulillah sangat terbantu. Apalagi sekarang harga kebutuhan mahal, jadi daging kurban ini sangat berarti untuk keluarga kami,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Ahmad, warga lainnya yang menerima pembagian daging kurban. Ia menilai tradisi gotong royong dan kebersamaan warga di kampungnya masih sangat kuat.
“Walaupun ekonomi sulit, warga tetap kompak dan saling berbagi. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini terus ada setiap tahun,” katanya.
Bagi warga Kampung Sawah, Labuan, kurban bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, kurban menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan, terutama di saat kondisi ekonomi sedang tidak mudah. (ILA)
