MenaraToday.Com - Pandeglang :
Kawasan Kotaku Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang dibangun melalui Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) dengan nilai proyek sekitar Rp17 miliar kini kembali menjadi sorotan masyarakat. Sejumlah fasilitas yang dibangun untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman pesisir terlihat tidak terawat dan sebagian beralih fungsi.
Pantauan di lokasi menunjukkan area pedestrian yang sebelumnya ditata sebagai ruang publik kini dimanfaatkan untuk menjemur ikan asin serta menyimpan perlengkapan nelayan seperti peti ikan dan jeriken bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, beberapa taman dan fasilitas umum lainnya tampak kurang mendapat perawatan.
Kondisi tersebut memunculkan kembali anggapan bahwa Desa Teluk kumuh, meski sebelumnya kawasan tersebut sempat menjadi contoh penataan lingkungan pesisir melalui Program Kotaku Desa Teluk yang dilaksanakan pada 2021.
Salah seorang warga, Suardi (54), mengaku prihatin melihat kondisi kawasan yang dibangun menggunakan anggaran Rp 17 miliar tersebut. Menurutnya, pembangunan yang telah menelan biaya besar seharusnya dapat terus dirawat agar manfaatnya dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
"Sayang saja, sakit hati melihatnya karena pemerintah pusat sudah menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit untuk pembangunannya. Tujuannya agar kawasan ini tidak kumuh, tapi sekarang malah semakin semrawut," kata Suardi, Kamis (18/6/2026).
Ia menilai kurangnya perhatian terhadap fasilitas yang telah dibangun menjadi salah satu penyebab kawasan tersebut kembali terlihat tidak tertata.
"Kayaknya pihak desa dan warganya juga tidak peduli. Lihat saja, malah jadi tempat jemur ikan asin, sampah di mana-mana, Taman Badak juga sekarang tidak terurus, bahkan jembatan juga materialnya sudah pada keropos akibat karat," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Asih (28). Ia mengatakan kawasan Kotaku Desa Teluk sempat menjadi salah satu lokasi yang menarik setelah proyek selesai dikerjakan.
"Waktu baru selesai memang terlihat indah, tapi makin ke sini kondisinya malah makin kumuh. Semoga pemerintah dan warganya bisa bersinergi untuk sama-sama menjaga dan merawat hasil pembangunan," katanya.
Sementara itu, seorang pengrajin ikan asin menjelaskan bahwa sebelum pembangunan dilakukan, lahan yang kini menjadi Taman Badak dan area beton penghalau ombak merupakan lokasi yang biasa digunakan warga untuk menjemur hasil produksi ikan asin.
"Dulu di situ kami jemurnya. Ketika ada pembangunan kami bingung karena tidak ada relokasi untuk menjemur ikan asin. Apalagi sekarang beton pemecah ombak sudah rusak tak bersisa. Akhirnya mungkin warga memanfaatkan lahan yang ada untuk menjemur ikan daripada berhenti produksi," ungkapnya.
Menurut warga, persoalan tersebut menunjukkan perlunya solusi yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan ekonomi masyarakat setempat.
Warga berharap pemerintah desa bersama masyarakat dapat lebih aktif menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun melalui Program Kotaku. Dengan demikian, tujuan penataan kawasan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman, dan bebas dari kawasan kumuh dapat terus terjaga.
Kondisi Desa Teluk yang kembali kumuh menjadi perhatian karena proyek pembangunan dengan anggaran Rp. 17 miliar tersebut sebelumnya diharapkan mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Perlu diketahui, pembangunan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang mulai direalisasikan pada tahun 2021. Program ini menjadi bagian dari penataan kawasan kumuh prioritas "Labuan-1" dengan dukungan anggaran sekitar Rp17 miliar dari Kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) RI.
Desa Teluk ditetapkan sebagai kawasan prioritas penataan kumuh dengan luas sekitar 10,86 hektare pada program KOTAKU tahun 2022, namun pekerjaan fisik dan revitalisasi kawasan telah dilaksanakan sejak 2021. (ILA)
