MenaraToday.Com - Pandeglang :
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI apresiasi festival gebrag ngadu bedug oleh pemerintah Kabupaten (Pemkab) Yang digelar selama tiga hari, yakni 29 Mei hingga 31 Mei 2026, di alun-alun Pandeglang. Bagi masyarakat, bedug bukan sekadar alat penanda waktu shalat. Ia adalah simbol kebersamaan, identitas budaya, dan warisan yang terus dijaga di tengah perubahan zaman.
Tradisi ngadu bedug kembali hadir melalui gelaran Gebrag Ngadu Bedug yang menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Di tengah derasnya arus modernisasi yang menghadirkan berbagai bentuk hiburan baru, masyarakat Pandeglang tetap setia merawat tradisi yang telah hidup sejak tahun 1970-an itu.
Ngadu bedug merupakan seni memainkan sejumlah bedug dengan ukuran berbeda secara harmonis. Setiap pukulan menghasilkan ritme yang khas, membentuk komposisi bunyi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat Banten yang religius dan komunal.
Tahun ini, sebanyak 20 kampung turut ambil bagian dalam perhelatan tersebut. Mulai dari Kampung Kabayan Masjid, Cicadas, Sukalimas, Carodok, Mandala, Salabentar, hingga Juhut JIP, seluruh peserta membawa semangat yang sama: menjaga tradisi agar tidak hilang ditelan waktu.
Di balik semarak pertunjukan, tersimpan kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak. Warga kampung bergotong royong menyiapkan saung, menghias panggung, hingga berlatih selama berhari-hari untuk menampilkan permainan bedug terbaik mereka. Tradisi ini menjadi lebih dari sekadar kompetisi, melainkan ajang mempererat hubungan sosial antar warga.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, Erwita Dianti, menilai Gebrag Ngadu Bedug memiliki daya tarik yang kuat sebagai atraksi budaya berbasis masyarakat.
“Yang menarik dari Gebrag Ngadu Bedug ini bukan hanya permainan bedugnya, tetapi juga kreativitas masyarakat dalam menghadirkan saung atau panggung yang unik. Ini menjadi kekuatan budaya yang memiliki nilai wisata dan layak untuk terus dipromosikan,” ujarnya.
Menurut Erwita, keunikan yang dimiliki tradisi tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan pariwisata budaya yang berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Seniman Bedug Pandeglang, Endang Suhendar, mengatakan tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti bahwa tradisi ngadu bedug masih mendapat tempat di hati warga Pandeglang.
“Sebanyak 20 kampung ikut berpartisipasi tahun ini. Ini menunjukkan bahwa kecintaan masyarakat terhadap budaya bedug masih sangat kuat. Kami ingin tradisi ini terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Bagi Endang, bedug bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan bagian dari identitas masyarakat yang harus dijaga bersama.
"Ada 20 kampung yang ikut gebrag ngadu bedug terdiri dari Kampung Kabayan Masjid, Kampung Cicadas, Kampung Sukalimas, Kampung Carodok, Kampung Mandala, Kampung Salabentar, Kampung Cibeunying, Kampung Cilaja, Kampung Kadulimus, Kampung Kadukupa, dan Kampung Ciguludug, Kampung Cikiray, Kampung Kadugajah, Kampung Sanim, Kampung Sarkawana, Kampung Juhut, Kampung Jambu, Kampung Sorean, Kampung Cipacung, Kampung Talaga, dan Kampung Juhut JIP," ungkapnya.
Di tengah arena, anak-anak tampak menyaksikan pertunjukan dengan penuh antusias. Mereka mengikuti irama tabuhan bedug yang menggema, sesekali menirukan gerakan para pemain.
Pemandangan itu menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana sebuah tradisi diwariskan, bukan melalui buku atau catatan sejarah, melainkan melalui pengalaman langsung yang hidup di tengah masyarakat.
Bupati Pandeglang, Raden Dewi Setiani, menilai Gebrag Ngadu Bedug merupakan salah satu bentuk nyata pelestarian budaya daerah sekaligus sarana memperkuat rasa kebersamaan masyarakat.
“Gebrag Ngadu Bedug bukan hanya pertunjukan budaya. Di dalamnya ada nilai gotong royong, kebersamaan, dan kecintaan terhadap warisan leluhur yang harus terus kita jaga di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, masuknya Gebrag Ngadu Bedug dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) menjadi peluang besar untuk memperkenalkan budaya Pandeglang kepada masyarakat yang lebih luas.
“Ketika budaya lokal mendapat pengakuan di tingkat nasional, maka tanggung jawab kita semakin besar untuk menjaga dan mengembangkannya agar tetap relevan serta diminati generasi muda,” kata Dewi.
Bagi masyarakat Pandeglang, penghargaan terbesar bukan sekadar status sebagai agenda nasional. Yang terpenting adalah memastikan dentuman bedug tetap terdengar dari generasi ke generasi.
Sebab selama suara bedug masih menggema di kampung-kampung Pandeglang, selama itu pula cerita tentang kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya akan terus hidup. Di tengah dunia yang bergerak cepat, Gebrag Ngadu Bedug menjadi pengingat bahwa ada nilai-nilai yang tetap layak dijaga, dirawat, dan diwariskan. (ILA)
