MenaraToday.Com - Pandeglang :
Di sebuah tempat praktik sederhana, di Kampung Karya Maju RT/RW. 002/002, Desa cimoyan, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, warga mulai berdatangan. Ada ibu yang membawa balita, lansia yang ingin memeriksakan kesehatan, hingga pasien yang datang dari desa tetangga. Mereka datang bukan hanya untuk berobat, tetapi juga karena percaya kepada sosok yang selama ini dikenal ramah, sabar, dan tulus melayani.
Dialah Iin Rapitiani, seorang bidan yang belakangan menjadi perbincangan masyarakat. Bukan karezzna penghargaan atau jabatan yang disandangnya, melainkan karena sikapnya yang dianggap langka di tengah kehidupan modern, melayani pasien tanpa mematok tarif.
Dalam praktik sehari-hari, Bidan Iin membebaskan pasien untuk membayar biaya pelayanan sesuai kemampuan dan keikhlasan masing-masing. Sikap tersebut membuat dirinya mendapat banyak apresiasi dari masyarakat, bahkan pasien datang tidak hanya dari Desa Cimoyan, tetapi juga dari sejumlah daerah lainnya
Bagi sebagian orang, biaya berobat sering kali menjadi persoalan. Namun di tempat praktik Bidan Iin, pasien tidak dibebani dengan tarif tertentu. Mereka dipersilakan membayar sesuai kemampuan dan keikhlasan masing-masing.
Kabar mengenai sosok bidan yang mengutamakan kemanusiaan itu menyebar dari mulut ke mulut. Tak sedikit warga yang mengaku terbantu oleh kebijakan tersebut, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Salah satunya adalah Sri (45). Ia masih mengingat bagaimana dirinya pertama kali berobat ke tempat praktik Bidan Iin.
"Beliau sangat ramah dan sopan. Saya melihat sendiri ada pasien yang datang dalam kondisi kesulitan, tetapi tetap dilayani dengan baik. Yang membuat saya kagum, beliau tidak pernah menentukan tarif. Semua dibayar seikhlasnya," tutur Sri. Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, sikap tersebut bukan sekadar bentuk pelayanan biasa, melainkan cerminan kepedulian yang lahir dari hati. Karena itulah, setiap hari tempat praktik Bidan Iin hampir tidak pernah sepi dari pasien.
Meski kini namanya viral dan mendapat banyak pujian, Bidan Iin mengaku apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang istimewa. Baginya, hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab yang telah diikrarkan saat memilih jalan hidup sebagai seorang bidan.
"Dalam sumpah kebidanan, kami harus siap dan ikhlas dalam memberikan pelayanan. Bidan harus mampu menjadi jembatan antara kearifan lokal dan ilmu medis modern tanpa menghakimi, tetapi tetap memberikan edukasi kepada masyarakat," ujarnya saat dihubungi melalui pesan WhatsApp.
Perempuan kelahiran Patia itu percaya bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berbicara tentang tindakan medis. Di balik setiap pelayanan, ada kepercayaan yang harus dijaga, ada rasa aman yang harus diberikan, dan ada kemanusiaan yang harus selalu diutamakan.
Baginya, menjadi bidan berarti hadir dalam berbagai fase kehidupan masyarakat. Mulai dari mendampingi ibu hamil, membantu proses persalinan, hingga memberikan edukasi kesehatan kepada keluarga.
Pengabdian yang ditunjukkan oleh Salah satu Bidan yang bertugas di Puskesmas Kecamatan Patia ini pun mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang, Hj. Eniyati, SKM., M.Kes., menilai apa yang dilakukan Bidan Iin mencerminkan nilai-nilai luhur profesi kebidanan.
"Setiap keputusan seorang bidan berkaitan langsung dengan nyawa manusia. Karena itu, etika profesi harus dijunjung tinggi. Menjadi bidan bukan pekerjaan yang bisa dijalani dengan setengah hati. Harus ada keseimbangan antara nurani dan tanggung jawab," kata Eniyati.
Menurutnya, peran sosial tenaga kesehatan sangat penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Sikap yang ditunjukkan Bidan Iin menjadi bukti bahwa pengabdian masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan dunia kesehatan saat ini, kisah Bidan Iin menghadirkan secercah harapan. Bahwa masih ada tenaga kesehatan yang menjadikan profesinya sebagai ladang pengabdian, bukan semata-mata pekerjaan.
Di ruang praktik sederhana di Desa Cimoyan itu, keikhlasan tidak hanya menjadi nilai yang diyakini, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari. Dan mungkin, itulah alasan mengapa banyak warga merasa bahwa selain memberikan pelayanan kesehatan, Bidan Iin juga menghadirkan ketenangan bagi mereka yang datang mencari pertolongan.
Sebab bagi Bidan Iin, menjadi bidan bukan sekadar profesi. Ia adalah panggilan hati untuk melayani sesama. (ILA)
