Tugu Perjuangan Di Bandar Pulau, Sejarah Yang Hampir Terlupakan

MenaraToday.Com - Asahan :

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas masyarakat Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, berdiri sebuah tugu perjuangan yang setiap hari dilintasi warga. Namun ironisnya, tidak banyak yang benar-benar memahami makna sejarah yang terkandung di balik bangunan sederhana tersebut.

Belakangan, keberadaan tugu tersebut kembali menjadi perhatian publik setelah diulas oleh konten kreator sejarah lokal Hery Terajana melalui media sosialnya. Melalui riset lapangan dan dokumentasi yang ia bagikan, masyarakat diajak melihat bahwa masih banyak jejak sejarah di Asahan yang selama ini luput dari perhatian.

Tugu itu menyimpan sebuah keunikan yang kerap luput dari perhatian. Pada prasastinya tertulis tanggal 18 Agustus 1945, bukan 17 Agustus sebagaimana lazimnya peringatan kemerdekaan Indonesia. Perbedaan tanggal ini menjadi pengingat bahwa sejarah perjuangan di daerah tidak selalu sama persis dengan narasi besar yang tercatat dalam buku pelajaran sekolah.

Yang lebih menarik, di sekitar tugu masih berdiri deretan rumah panggung kayu tua yang diperkirakan berasal dari masa kolonial. Bangunan-bangunan itu menjadi saksi bisu perjalanan panjang Bandar Pulau, mulai dari masa penjajahan, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan daerah seperti yang kita lihat saat ini.

Tokoh pemuda Bandar Pulau, Sudirman Marpaung, menilai bahwa keberadaan tugu dan bangunan bersejarah tersebut harus menjadi perhatian bersama.

"Apa yang dilakukan Hery Terajana patut diapresiasi karena mampu membangkitkan kembali rasa ingin tahu masyarakat terhadap sejarah daerahnya sendiri. Banyak generasi muda yang setiap hari melewati lokasi ini, tetapi belum mengetahui sejarah yang tersimpan di dalamnya. Padahal, identitas suatu daerah dibangun dari ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarahnya," ujar Sudirman Marpaung.

Menurutnya, pelestarian sejarah tidak harus menunggu program besar dari pemerintah. Kesadaran masyarakat untuk mengenal, merawat, dan menceritakan kembali sejarah lokal kepada generasi berikutnya merupakan langkah penting agar warisan tersebut tidak hilang ditelan zaman.

Tugu perjuangan dan rumah-rumah tua di Bandar Pulau bukan sekedar benda mati. Keduanya adalah penghubung antara masa lalu dan masa kini. Kehadiran konten-konten sejarah lokal yang edukatif juga menjadi sarana penting untuk memperkenalkan kembali warisan tersebut kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda yang lebih dekat dengan media digital.

Sudah saatnya masyarakat Asahan, khususnya Bandar Pulau, kembali menoleh kepada jejak-jejak sejarah yang selama ini berdiri diam di depan mata. Sebab bangsa yang besar bukan hanya menghargai pahlawannya, tetapi juga menjaga setiap saksi sejarah yang ditinggalkan mereka. (HT)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama